Sabtu, 18 Ogos 2012

Tiga Pintu Kebijaksanaan

Seorang raja mempunyai seorang anak yang berani dan pintar. Untuk menyempurnakan pengetahuan, raja menghantarnya kepada seorang ilmuan untuk memberi nasihat tentang “Jalan Hidup”.

Kata ilmuan itu kepada anak raja "Di Jalan Hidupmu kau akan menemui 3 pintu. Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata hatimu".

Selepas itu anak raja meneruskan perjalanan dan bertemu dengan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis "UBAHLAH DUNIA".

"Ini memang yang aku inginkan" fikir anak raja. "Karena di dunia ini ada hal-hal yang aku sukai dan ada pula hal yang aku tak sukai. Aku akan mengubahnya sesuai dengan keinginanku".

Maka anak raja memulakan pertarungannya yang pertama iaitu “Mengubah Dunia”. Keazaman dan kekuatan membantunya dalam usaha menakluk dunia agar sesuai mengikut hasratnya. Dia merasa senang dengan usahanya tetapi hatinya tidak merasa damai. Walaupun sebahagian berhasil diubahnya tetapi ada sebahagian yang lain menentangnya.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari, dia bertemu si ilmuan lagi.


"Apa yang kau pelajari dari Jalanmu ?" Tanya si ilmuan.


"Aku belajar untuk membezakan apa yang dapat dilakukan dengan kekuatanku dan apa yang di luar kemampuanku" jawab anak raja.


"Bagus! Lakukan sesuatu sesuai dengan kemampuanmu. Lupakan apa yang diluar kemampuanmu" kemudian si ilmuan berlalu pergi.


Tak lama kemudian, anak raja tiba di Pintu Kedua yang bertulis "UBAHLAH SESAMAMU".


"Ini memang keinginanku" fikirnya. "Orang-orang di sekitarku adalah sumber kesenangan dan kebahagiaan tetapi mereka juga yang mendatangkan derita, kepahitan dan kehampaan". Kemudian dia cuba mengubah semua orang yang tidak disukainya. Dia cuba mengubah karakter mereka dan menghilangkan kelemahan mereka. Ini menjadi pertarungannya yang kedua.


Masa berlalu, kembali dia bertemu si ilmuan lagi.


"Apa yang kau pelajari kali ini?" tanya si ilmuan.


"Saya belajar bahawa orang-orang di sekitar bukanlah sumber kegembiraan atau kedukaanku, keberhasilan atau kegagalanku. Mereka hanya memberikan kesempatan agar hal-hal tersebut dapat muncul. Sebenarnya di dalam dirikulah segala hal tersebut berakar umbi".


"Kau benar" kata si ilmuan. "Sebenarnya orang-orang di sekitarmu mengenalkan kau pada dirimu sendiri. Bersyukurlah pada mereka yang telah membuatmu senang dan bahagia serta membuatmu derita dan kecewa”. Kemudian si ilmuan berlalu pergi.


Selepas itu anak raja tiba di pintu ketiga iaitu "UBAHLAH DIRIMU".


"Jika memang diriku sendiri sumber bagi segala masalahku, memang aku harus mengubahnya". Anak raja berkata kepada dirinya sendiri.


Dia mulakan pertarungannya yang ketiga iaitu mengubah karakternya sendiri, melawan ketidak sempurnaannya, menghilangkan kelemahannya, mengubah segala hal yang tidak disukai dari dirinya, yang tidak sesuai dengan gambaran ideal.


Setelah beberapa tahun berusaha, sebahagian berhasil dan sebahagian lagi gagal diubahnya, anak raja bertemu si ilmuan kembali.


"Kini apa yang kau pelajari ?" tanya si ilmuan.


"Aku belajar bahawa ada hal di dalam diriku yang boleh diubah dan ada yang tidak boleh diubah" kata anak raja.


"Itu bagus" ujar si ilmuan. "Ya" kata anak raja, "tapi aku mulai letih untuk bertarung melawan dunia, melawan setiap orang dan melawan diri sendiri. Tidakkah ada akhir dari semua ini? Bila aku boleh tenang? Aku ingin berhenti bertarung, ingin menyerah, ingin meninggalkan semua ini!".


"Itu adalah pelajaranmu berikutnya" kata si ilmuan. Tapi sebelum itu, pusing kebelakang dan lihatlah “Jalan” yang telah kau tempuhi". Kemudian si ilmuan berlalu pergi.


Ketika melihat ke belakang, dia nampak Pintu Ketiga dan melihat adanya tulisan yang berbunyi "TERIMALAH DIRIMU".


"Ketika seorang bertarung, dia mula menjadi buta" katanya pada dirinya sendiri. Dia mula menyedari kekurangan dirinya, menerima diri seadanya. Dia belajar mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa mengadili, tanpa mencerca dirinya sendiri.


Dia bertemu si ilmuan dan berkata "Aku belajar untuk menerima diriku seadanya, secara total dan tanpa syarat."


"Bagus, itu adalah Pintu Pertama Kebijaksanaan" , ujar si ilmuan. "Sekarang kau boleh kembali ke Pintu Kedua".


Apabila sampai Pintu Kedua, tertulis di sisi belakangnya "TERIMALAH SESAMAMU".


Dia melihat orang-orang di sekitarnya, mereka yang dia suka serta mereka yang dia benci. Mereka yang menyokongnya, juga mereka yang melawannya. Yang menghairankan, dia tidak lagi melihat ketidaksempurnaan mereka, kekurangan mereka. Apa yang sebelumnya membuat dia malu dan berusaha mengubahnya.


Anak raja bertemu si ilmuan kembali, "Aku belajar" katanya "Bahwa dengan berdamai dengan diriku sendiri, aku tidak punya sesuatu pun untuk mempersalahkan orang lain, tidak sesuatupun yang perlu ditakuti dari mereka. Aku belajar untuk menerima dan mencintai mereka, apa seadanya”.


"Itu adalah Pintu Kedua Kebijaksanaan" ujar si ilmuan, "Sekarang pergilah ke Pintu Pertama".


Di belakang Pintu Pertama, anak raja melihat tulisan "TERIMALAH DUNIA".


"Sungguh aneh!" katanya pada dirinya sendiri "Mengapa saya tidak melihat sebegini sebelum ini". Dia melihat sekitarnya dan mengenali dunia yang sebelumnya dia berusaha untuk menakluk dan mengubahnya. Sekarang dia terpesona dengan betapa indahnya dunia, dengan kesempurnaannya. Tetapi ini adalah dunia yang sama, apakah memang dunia yang berubah atau cara pandangnya?

Kembali dia bertemu dengan si ilmuan: "Apa yang kau pelajari sekarang?"

"Aku belajar bahawa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwaku. Ketika jiwaku senang, maka dunia pun menjadi tempat yang menyenangkan. Ketika jiwaku muram, maka dunia pun kelihatan muram. Dunia sendiri tidaklah menyenangkan ataupun muram. Ia ADA, itu saja. Bukanlah dunia yang membuatku terganggu melainkan makna (meaning) yang aku berikan mengenainya. Aku belajar untuk menerima tanpa menghakimi, menerima seutuhnya, tanpa syarat”. Kata anak raja.


"Itu Pintu Ketiga Kebijaksanaan" kata si ilmuan. "Sekarang kau berdamailah dengan dirimu, dengan sesamamu dan dengan dunia" kata si ilmuan kemudiannya menghilangkan diri.


Anak raja merasakan kedamaian dan ketenteraman yang berlimpah memasuki dirinya. Dia merasa hening dan damai kini.

* Tiada yang baik atau buruk, berfikir (memberi makna) menjadikannya baik atau buruk. Berdamailah dengan diri sendiri, dengan orang-orang di sekitar dan dengan dunia. Terimalah seada-adanya.


Sumber: Internet

Tiada ulasan:

Catat Komen