Sabtu, 18 Ogos 2012

NLP: Rumah Tukang Kayu


Seorang tukang kayu tua mahu berhenti dari pekerjaannya di sebuah syarikat pembinaan. Pemilik syarikat merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Dia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk terakhir kalinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya dia merasa terpaksa. Dia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan tidak bersungguh-sungguh dia mengerjakan projek itu dengan menggunakan bahan-bahan ala kadarnya.


Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh sayang dia harus mengakhiri kerjayanya dengan prestasi yang tidak begitu memuaskan.


Ketika pemilik syarikat itu datang melihat rumah tersebut, dia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu," katanya, "hadiah dari kami".


Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya dia mengetahui bahwa dia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, dia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali.


Kini dia harus tinggal di sebuah rumah yang tak bagus hasil kerjanya sendiri.


* Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, ada dari kita yang membangunkan kehidupan dengan cara ala kadar. Bahkan pada bahagian-bahagian terpenting dalam hidup, kita tidak memberikan yang terbaik. Hidup kita pada esok hari adalah akibat sikap dan pilihan yang kita buat pada hari ini.


Sumber: Internet

Tiada ulasan:

Catat Ulasan